Sebuah puisi: SERIBU PROSA MANIS MENUNGGU



Sebuah puisi

 SERIBU PROSA MANIS MENUNGGU

Setelah wajah rembulan membenamkan kepada wajahmu, kekasih.

Tak kutemukan wajah-wajah meraka yang berkata indah. 

Dan rembulan ini cukup kita rasakan berdua.

Setelah sepi menyapa usai. Di riak mana lagi rindu kububuhkan kenangan. Seperti ruang drama yang kita lihat lewat jendela, berdecak kagum tanpa mampu untuk berkata.

Setelah hilang pada secarik kertas atas larik juga bait kata di ruang jendela. Halaman buku ini bibirnya beku. Telah kaku untuk merayu dan berkata

Setelah seribu prosa manis menunggu dan; kau tinggalkan, Kekasih. Purnama mulai membelenggu menangkap aku yang sedang rindu Setelah semenit pelit minta detik menuju satu jam menunggumu.Satu abad lebih sewindu lama terasa sepi dan termangu

Setelah redup cahaya lampu tergantikan gelap mataku, kekasih.

Kau menari dekat sekali dengan hati.

Setelah ranum wajahmu jelas memenuhi sulbiku. Maka tak mampu aku berkata tidak. Kepada mimpi yang kau temani ini.

Setelah malam mau berangkat menuju pagi. 

Tak mampu aku tenggelam dan minggat pergi.

Setelah ku eja alif ini berubah menjadi ya' pada pertemuan akhir hijaiyah ini. Maka nun melamun memikirkan fa' yang mencari qof tiada henti

30 januari 2018


Next Post Previous Post
1 Comments
  • Unknown
    Unknown 19 Januari 2022 12.21

    gg

Add Comment
comment url