Sebuah Cerpen Sudah Sedih Masih Buta Oleh Faqyai




Sebuah Cerpen Sudah Sedih Masih Buta 

Oleh Faqyai


Pagi

 Pagi yang cerah dengan warna hitam memenuhi ruang mata Pandi, kicau burung telah berkali-kali membuatnya kagum, membuatnya mampu lari dari keabadian dalam sepi. Suara kendaraan mulai memenuhi di bising telinganya, orang berhamburan terdengar jejak kakinya yang riuh di telinga Pandi. Pandi yang buta dua puluh tahun lamanya, semenjak lahir ia hanya mengenal dua warna saja; hitam dan abu-abu manakala ada siluet cahaya yang mengarah pada matanya. Fungsi matanya adalah tempat jalan air mata yang keluar dari hari-hari Pandi yang getir. Sebuah kenyataan hidup daripada orang-orang yang mampu melihatnya justru seringkali memperdaya dengan hinaan, olokan dan cacian yang telah lama menemani hidupnya. 

Gitar Tua

 Pandi bangkit dari pulas tidurnya, tangan kanannya yang dekil meraba-raba gitar tua miliknya, masih ada. Satu-satunya hal yang Pandi khawatirkan saat itu adalah gitar kesayangannya hilang, ternyata tidak. Pandi bersyukur mengelus dada. Pandi kemudian mengawali pagi yang hitam dengan bernyanyi ria. "O, langit katanya warnamu biru, apakah biru itu? O, cantik pagi yang cerah sejuk suci memeluk berserah, nananaaa." Tangannya mulai kembali memetik gitar. "O, awan yang rindang permai tubuhmu putih seraya berserih, temani aku yang duduk lirih, nananaaaa." 

Taman

 Pandi kemudian menuju taman, tangan kanannya adalah mata pengganti dalam hidupnya seraya tongkat yang mengetuk-ngetuk jalan, Pandi hapal betul arah dimana yang akan ia tuju, setidaknya jalan ke arah taman yang ia tuju. "Pagi Bang, langitnya cerah sedang berwarna biru" Sahut Minong, wanita yang dari negeri entah berantah menyapanya, Minong yang rutin menyapa Pandi, Minong yang suka membuat Pandi berkecil hati. "Pagi Nong, langit yang hitam menungguku datang" Ketus jawab Pandi, menjawab sapaan Minong yang sama setiap hari berulangkali. Tentu Minong senang bukan kepalang terdengar kekehannya di telinga Pandi. 

Minong

 Minong yang riang, entah terhitung sejak kapan Minong menghantui Pandi yang rutin setiap pagi memberikan ucapan-ucapan satire kepadanya. Pandi berpikir Minong 

 adalah wanita utusan tuhan yang datang mengganggunya, memberi 

wejangan-wejangan ringan yang hangat namun penuh gelitik di telinga Pandi, minong yang tak pernah goyah menggodanya yang suka menceritakan isi dunia dan segeala bentuknya, yang suka memberikan rasa penasaran yang luar biasa dalan hati Pandi akan dunia yang hampa. 

Nasib

 "Bang Pandi yang malang, nasib merenggutnya sepi temannya, untung ada aku yang mau menggoda, esok mau cerita apa? Dunia indah isinya lalalalaaa." Minong bernyanyi menemani Pandi yang sedang berjalan menuju taman. "Minong, kapankah kau tiada, aku bosan karena terus kau goda dududuu" balas Pandi dalam nyanyi dan dalam ingatan yang membayangkan wajah minong serupa wanita berwajah jelek dengan banyak jerawat bermunculan di wajahnya. "Hahaha" Pandi tertawa melihat 

Minong dalam bayangannya yang amat buruk rupa. 

Pak Bongki

 Tibalah di taman yang Pandi tuju seperti hari-hari biasanya, disana pula ada Pak Bongki, laki-kali tua salah satu penunggu taman itu. "Pandi, Mesra kali kau dengan si Minong, lagi-lagi kau dengar ocehannya duduk sini mari kita mulai acara kita". pak Pandi adalah teman mengamennya dia di bagian suara pembantu dalam grup itu juga bagian mengumpulkan uang yang berceceran. Minong? Hilang. Rutinitas misterius selanjutnya adalah Minong yang acap kali pergi tiba-tiba tanpa memberi kabar sebelumnya. 

Nostalgia

 Dengan gitar tua yang dipegang Pandi ia mulai menyanyi, ia teringat kepada seoarang yang tanpa suara memberikan gitar itu beberapa waktu silam. Tak sempat Pandi mengucapkan terima kasih, tak sempat ia mengejarnya karena sekali lagi, dunia adalah bagian hitam dalam matanya. Kemudian Pandi bernyanyi, lebih tepatnya ia bercerita dalam lagunya tersebut. Bagaimana ia sejak kecil di tinggal pergi orang tuanya, bagaiman ia sejak kecil sudah mencari uang dengan meminta belas kasih kepada orang-orang yang seringkali memberinya cacian dan hinaan daripada uang. 

Menyeramkan

 Orang-orang silih berganti berdatangan mengintip penampilan pengamen menyedihkan di taman itu. Suara Pak Bongki yang sedikit sumbang memberikan warna di pagi yang cerah, Pak bongki yang semberi sibuk mengumpulkan uang-uang kecil dari orang-orang. Jam sembilan pagi mereka berhenti mengamen. Pak bongki adalah bagian intelejen yang memantau apakah Satpol PP datang atau tidak. Di mata Pandi satpol PP adalah sekumpulan manusia jahat dengan kulit hitam, gigi taring panjang dan sepasang tanduk dengan warna menyala di kepalanya. Menyeramkan. 

Pergi

 "Pak Bongki, mari pak kita pergi aku takut mereka manusia-manusia seram itu datang lagi" dengab cemas Pandi ucap pada Pak Bongki. Seraya dituntun Pak Bongki mereka berjalan dengan cepat. Pandi mengingat bagaimana para Manusia yabg seran itu memberikan sapaan dengan tongkatnya, tongkat yang berbeda dengan milik Pandi, tongkat yang ganas yang tak ingin berteman dengannya, bukan seperi tongkat Pandi yang baik hati juga setia kepadanya. 

Tiba

 Siang telah tiba, Pak Bongki dan Pandi kemudian mencari Warteg untuk mengisi perut yang sedang keroncongan. Seperti biasa, Minong muncul di Warteg tersebut menemani Pandi makan bersama-sama. "Bang Pandi! Ayok makan, belikan aku ayam goreng nyam-nyam." Selayaknya Bos si Pandi menyuruh Pak Bongki mengambil uang untuk membayar makan, cukup merogoh kocek yang banyak, bagi Pandi Minong adalah wanita sialan yang kerap menghabiskan sebagian uang. Namun di lain sisi Pandi juga bingung untuk apa menabung sebab yang ia perlu dalam uang itu hanyalah untuk makan. Pandi pasrah. Tiga Porsi Nasi Ayam nyam-nyam aromanya telah hinggap di hidungnya. Bagi Pandi Ayam adalah makhluk kecil ciptaan tuhan yang diciptakan untuk berkokok kala pagi dan untuk memenuhi nutrisi Minong, Pandi 

jarang memesan menu itu, Minong yang rutin memesannya membuat pandi 

kadangkala memesan porsi yang biasa-biasa saja, nasi putih, tempe satu, es teh. 

Makan siang

 Kemudian mereka menyantap dengan hangat makanan tersebut, obrolan-obrolan ringan mengisi di sela-sela mereka makan. Sebuah kisah kecil dari sekumpulan orang-orang terpinggirkan. Acara makan telah selesai. Pak Bongki pamit pergi melanjutkan hari-harinya sendiri. Pak bongki tidak pernah bercerita kepada Pandi sejarah hidupnya dan perihal apa yang ia kerjakan setelah makan siang. Minong menghampiri Pandi memeluknya, menandakan pertemuan yang usai. "Bang Pandi Yang buta Minong pergi dulu ya" . Minong di Siang hari beda dengan Minong di pagi hari, ia selalu pamit pada Pandi bila ingin pergi jika siang hari. Wanita yang aneh. Tubuhnya yang wangi memeluk tubuh Pandi dekil itu. Sebenci apapun Pandi terhadapan Minong, di pelukannya Minong menjelma bagian hangat dalam hidupnya. 

Ritus

 Ritus yang sama terus berulang daru waktu ke waktu. Tak ada yang beda. kemarin 

adalah foto copy-an dari hari ini dan hari ini adalah foto copy-an hari esok. 

Hari-hari Pandi yang sepi sedikit ditemani oleh candaan Minong dan keakraban Pak 

Bongki. 

Pagi kembali

 selamat pagi, pagi yang jenuh pagi yang sama dengan pagi kemarin, cerah dan hitam legam. pandi beranjak dari tidurnya segera menuju taman dan memulai lagi menyapa dunia dengan mengamen di taman. Sembari berjalan Pandi bernyanyi lagu kesukaan ciptaannya yang rutin ia nyanyikan kala pagi tiba. "O, langit katanya warnamu biru, apakah biru itu? O, cantik pagi yang cerah sejuk suci memeluk berserah, nananaaa." Sembari berjalan ia melanjutkan menyanyikan lagunya. "O, awan yang rindang 

permai tubuhmu putih seraya berserih, temani aku yang duduk lirih, nananaaaa." 

Absen

 Ada yang absen pagi ini, obrolan Minong yang hilang di telinga Pandi. Bak di telan Bumi, Minong pagi itu secara misterius tidak datang kembali. Sekalipun Minong adalah wanita yang suka membuat Pandi kesal, pagi itu ketidakadaannya sukses membuat Pandi sedikit bertanya-tanya, kemanakah gerangan dirinya pergi. 


 Pandi kemudian bertenya kepada Pak Bongki sesampainya di taman itu. Pak Bongki bertanya kepada Pandi kemanakah Minong yang tumben kali ini tak menemani si Pandi. Diantara mereka yang saling bertanya ditemukan titik jelas diantara percakapan mereka; Minong pergi tanpa kabar. Pandi dan Pak Bongki melanjutkan mengamen dan saling meyakini satu sama lain bahwa nanti siang si Minong akan datang bersama mereka di Warteg langganan. 

Ayam Nyam-nyam

 Pandi siang itu memesan tiga porsi makanan dengan salah satu porsinya adalah Ayam nyam-nyam kesukaan Minong. Namun Minong lagi-lagi mangkir dari makan siang tersebut, Pak bongki menghabiskan porsi makan Minong. Pelukan Minong yang bertubuh wangi dan berwajah buruk rupa itu telah absen. Siang yang dingin dan Pak Bongki lanjut lagi meninggalkan Pandi sendiri. Mungkin esok Minong datang, ucap pandi yang sedikit menaruh rasa kangen kepada ocehan-ocehan satire Minong. 

Bernyanyi ria

 Hari selanjutnya Pandi memulai bagi yang klise dengan bernyanyi ria sesegera ia 

menuju taman sesegera ia ingin berjumpa dengan Minong. Sepanjang riuh 

orang-orang yang berlalu lalang berangkat bekerja Pandi mencari suara Minong yang lekat diingatnya. Ia tidak menemukan itu diantara gumpualan suara sibuk lainnya. Pak Bongki bertanya lagi kepada Pandi kemana gerangan Minong pergi. Mereka perlahan mulai mencari alasan ketidakadaaanya Minong, Barangkali dia, barangkali dia, bla bla 

bla. Tiga porsi makan siang yang sudah tersedia plus Ayam nyam-nyam tetap dihabiskan Pak Bongki. Tubuh Pandi yang dekil dipeluk oleh segelintir pertanyaan-pertanyaan dengan satu muara yang sama, kemanakah Minong pergi gerangan? 

Penantian

 Dari hari ke hari kini lanjut menjadi minggu ke minggu lalu bulan ke bulan Minong telah raib dari hidup Pandi. Pandi yang malang kini ditinggal pergi Minong. Ocehannya menjelma kenangan dan berbagai segelumit pertanyaan. Pelukan Minong telah hilang dari tubuh Pandi beserta ingatan akan wangi tubuhnya. Pandi sekalipun mau tidak perduli ia tetap bergumam dalam hati bahwa wanita sialan itu telah memberikan sebuah tanda tanya besar dalam hari-harinya. 

Murung

 Entah mengapa kini Pandi lebih sering murung. Pak Bongki berusaha membuatnya tertawa mencoba menggantikan Minong. Namun Minong adalah satu-satunya 

manusia yang sukses membuat pandi tulis tertawa. " Pandi, sebaiknya kita perlahan harus melupakan Minong" ucap Pak Bongki kepada Pandi. Mata pandi kini berfungsi sebagai tempat keluar nya air mata, dengan perlahan kesedihan membasahi pipinya. Dahulu yang ia inginkan Minong sesegera mungkin tiada telah ia rindukan kini sosok kehidupannnya. 

 Hari-hari yang berat bagi Pandi, kehilangan sosok Minong adalah mencabik hidupnya. Lalu kemudian suatu waktu izinlah Pak Bongki kepada Pandi untuk berhenti mengamen. Pak bongki ingin pulang kampung katanya, entah kemana. Kini Pandi seperti Pandi yang sebelum bertemu dengan Minong dan Pak bongki. Pandi yang malang ditinggal sendirian melewati kekejaman hidup yang di dalam hidupnya 

telah redup. 

Redup

 Waktu beranjak demi waktu, Pandi yang malang memulai pagi yang klise tanpa kehadiran Pak Bongki dan Minong dengan bernyanyi lagu kesukaannya. "O, langit katanya warnamu biru, apakah biru itu? O, cantik pagi yang cerah sejuk suci memeluk berserah, nananaaa." Tangannya mulai kembali memetik gitar. "O, awan yang rindang permai tubuhmu putih seraya berserih, temani aku yang duduk lirih, nananaaaa." Air matanya perlahan surut daripada sebelum-sebelumnya yang lebih banyak dihinggapi kesedihan. Pandi kini mampu tersenyum meski dengan kegetiran. 

Wasiat

 Pak bongki dalam dari kejauhan getir melihat Pandi, Namun wasiat Nona Minong adalah Mutlak. Sembari mengingat kebahagiaan masa lalu. Pak Bongki tak kuasa menangis dalam Mobil Nona Minong melihat dengan dekat Pandi yang bernnyanyi dengan gitar tua pemberian Nona Minong yang bertuliskan DUNIA MEMBENCI ABANG PANDI, MINONG SAYANG ABANG. Lanjut lalu Pak Bongki sebagai Sopir daripada Nona Minong melanjutkan perjalanan menziarahi kuburan 

majikannya. 












                                        

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url