Antara Kyai, Ustadz, dan Pak

 

 Kyai, Ustadz, Dan Pak

Sebuah Catatan kecil

Ini adalah sebuah studi kasus yang ga serius-serius amat, tentang pengalaman penulis sebagai mahasiswa di salah satu perguruan tinggi yang ada di Jakarta selatan. Ini hanya catatan ringan, boleh baca sambil rebahan, ngemil dan sambil ngopi juga sabi. 

Catatan ini dimuat saat saya berstatus mahasiswa aktif di PTIQ JAKARTA semester 4 baru seminggu. 

Permulaan

2020 adalah saat-saat dimana saya harus melanjutkan pendidikan saya di jenjang sarjana, tak banyak pilihan karena ada beberapa 'faktor' yang tak bisa saya ceritakan Disini. Namun di tahun tersebut saya memantapkan hati untuk melanjutkan pendidikan saya di PTIQ JAKARTA ini. Oke lanjut.

PTIQ JAKARTA adalah salah satu kampus yang mengkhususkan dan mengoptimalkan pengajaran dan pengembangan mahasiswa di dalam keilmuan Al-Qur'an, sehingga banyak di dalamnya mata kuliah yang dikhususkan tentang pengetahuan akan Al-Qur'an serta beberapa ilmu turunan di dalamnya. 

Nah, dengan demikian maka pengajar yang ada di institut PTIQ Jakarta ini adalah banyak dari mereka merupakan para ahli Al-Qur'an, para kyai, asatidz, dimana background pendidikan sebelumnya lekat sekali dengan pondok pesantren dan lembaga keilmuan Islam.

Kecanggungan

Selama 4 semester ini, saya pribadi masih canggung, untuk memberikan panggilan kepada guru-guru pengajar di perkuliahan tersebut, sejalan dengan penjelasan di awal tadi, saya terkadang sering tertukar, kadang manggil pak, kadang ustadz kadang pula kyai, hingga sampai detik ini. 

Ini sebenarnya bukan permasalahan yang besar, hanya receh, cuma, saya terkadang plinplan dan tidak konsisten dalam memanggil guru-guru saya tersebut. 

Terkadang, saya memanggil pak ketika matkul yang diajarkan umum, manggil ustadz ketika matkul yang diajarkan berupa kajian islam dan Al-Qur'an, manggil kyai ketika memang guru saya ini juga tokoh masyarakat, dan memang seorang kyai.
Namun, itu bukan acuan. Tetap saja tercampur-campur panggilannya.

Kemungkinan

Kemungkinan hal tersebut terjadi, kepada teman-teman saya di kelas, maupun di fakultas atau bahkan mahasiswa yang baru masuk atau juga mahasiswa yang lebih lama dari saya. Atau kemungkinan yang lain; hanya saya sendiri yang merasakannya.

Dan sejujurnya saya menulis ini merasakan kesepian dan jangan-jangan hanya saya yang kebingungan dalam menentukan panggilan tersebut.

Honorable mention

Beda lagi ceritanya jika pengajarnya adalah wanita. 
Bukan maksud saya membedakan gender, cuma bagi saya entah mengapa panggilan ibu ga bisa tergantikan, saya lebih nyaman, lebih akrab dengan panggilan tersebut. 

Konklusi

Pada akhirnya. Sebuah itu hanyalah nama panggilan, tidak mempengaruhi terhadap rasa hormat saya kepada guru-guru saya. Meskipun kadang saya sebagai pribadi yabg menjengkelkan, sering melakukan kesalahan, kadang bermalas-malasan, tidak masuk kelas dan telat mengumpulkan tugas, hehe. Maaf.

Ini hanya pembicaraan ringan, tidak usah terlalu serius menanggapi, biarkan romantisisme yang saya hadapi dalam kebingungan memilih nama panggilan menjadi sebuah pengalaman kecil yang menggelitik dan menggelikan. 

Jika kalian serupa dengan kasus yang saya alami, boleh kita berdiskusi, bincang-bincang ringan akal hal tersebut, hihi. 

Terima kasih karena sudah sejauh ini kalian membaca tulisan saya. 

Regards

Faqyai.



Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url